Rabu, 21 April 2010

WAWANCARA

















Bupati Majene,
H. Kalma Katta, S.Sos, MM

Aplikasikan Slogan Mammis, PNS Harus Bisa Mengaji

Slogan Majene Mammis yang salah satu butir awalnya huruf M yang bermakna Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan Agar Berakhlak Mulia dan Bermoral bagi Aparatur Pemerintah dan Masyarakat, merupakan salah satu visi Kabupaten Majene untuk mewujudkan aparatur dan masyarakat yang memiliki nilai-nilai moral dan keimanan yang tinggi. Hal ini diaplikasikan salah satunya melalui penilaian test membaca Alquran bagi CPNS yang telah mendapatkan SK PNS 100% yang diadakan beberapa waktu lalu.
Untuk mengetahui sejauh mana penerapan slogan Mammis tersebut dalam membentuk moral dan akhlak para aparatur pemerintah dan masyarakat, berikut petikan wawancara dengan penggagas ide Slogan Majene Mammis dan sekaligus bupati Majene, H. Kalma Katta, S.Sos, MM baru-baru ini di kediamannya.

Bagaimana penerapan slogan Majene Mammis dalam membangun Majene kota religi ?
Kami menerapkan slogan tersebut salah satunya dengan mengadakan test baca Alquran kepada CPNS yang terangkat beberapa waktu lalu. Hal tersebut ditempuh agar aparatur dapat meningkatkan keimanannya melalui kemampuan membaca Alquran. Selain itu, Saya berpendapat bahwa hal tersebut harus dimulai secara intern mulai dari aparatur dahulu kemudian menyusul stakeholders yang lain.

Apa dampak positif dari kegiatan tersebut ke depan ?
Diharapkan melalui baca Alquran para aparatur PNS tersebut memahami dan menjadikan Alquran sebagai pedoman dalam melaksanakan tugasnya sehingga dapat menghindarkan dirinya dari penyimpangan yang mungkin terjadi. Saya yakin bahwa kemampuan baca Alquran di kalangan aparatur pemerintahan pada gilirannya akan membimbing mereka menjadi manusia-manusia berkualitas dan bertakwa.

Upaya apa yang ditempuh Pemkab Majene dalam memberantas buta aksara Alquran dan dalam peningkatan keimanan masyarakat secara luas ?
Berbagai upaya telah ditempuh Pemkab Majene terkait hal tersebut seperti penyelenggaraan MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur’an) serta pembinaan sejak usia dini melalui TPA (Taman Pengajian Alquran) yang kesemuanya itu bertujuan memberi pengaruh pada masyarakat agar menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup sehingga akan terwujud masyarakat yang berakhlak mulia dan memiliki keimanan yang tinggi sebagai modal dasar pembangunan di segala bidang.

Lalu bagaimana dukungan Pemkab Majene dalam hal anggaran pada kegiatan-kegiatan keagamaan selama ini ?
Kami memback-up setiap kegiatan keagamaan melalui Kas daerah Majene. Hal tersebut tentunya sangat bergantung pada kemampuan Pemkab Majene mendulang PAD sehingga bantuan-bantuan keagamaan dapat ditingkatkan jumlahnya dari tahun ke tahun. Salah satu hal yang telah dilakukan yaitu pemberian tunjangan untuk para Imam Mesjid.

Bagaimana konsep pembangunan Majene yang disinergikan dengan pembangunan di bidang ke-agamaan ?
Salah satu contoh konsep tersebut yaitu bahwa setiap pembangunan real estate/perumahan mutlak disediakan lahan untuk pembangunan sarana ibadah dalam kompleks tersebut.

Apa indikator peningkatan kesadaran beragama di kalangan masyarakat Majene ?
Indikator penilaian peningkatan ketaatan masyarakat beragama dapat dilihat dari jumlah jamaah Haji Kabupaten Majene yang meningkat secara signifikan dalam 3 tahun terakhir. Hal tersebut mengindikasikan selain meningkatnya ketaatan masyarakat dalam beragama juga menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang semakin meningkat.(mm)

WAWANCARA


Kepala Kantor
Kementrian Agama Kabupaten Majene
MTQ, Semangat
Kecerdasan Spiritual





Sebutan nama Departemen Agama(Depag)Kabupaten Majene tidak digunakan lagi sejak 28 Januari 2010 lalu, dan sebagai penggantinya adalah Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Majene. Pergantian nama tersebut berlaku secara nasional. Hal ini, diungkapkan Kepala Kemenag Kabupaten Majene, H. Imran Kesa, S.Ag baru-baru ini diruang kerjanya. Menurutnya, hanya namanya saja yang berubah, untuk struktur internal Kamenag masih sama seperti yang dulu. Termasuk juga dalam kepanitiaan MTQ tingkat Provinsi Sulbar yang rencananya akan digelar sekitar Bulan Maret/April mendatang.
Setelah sukses penyelenggaraan MTQ Tingkat Kabupaten beberapa waktu lalu, menurut Imran, terdapat beberapa catatan kemajuan dalam peningkatan kesadaran masyarakat dalam memberantas buta aksara Al Qur’an di Majene. Lalu bagaimana masalah misi dan tujuan MTQ itu sendiri dan bagaimana pula persiapan untuk penyelenggaraan MTQ tingkat Provinsi Sulbar? Berikut petikan wawancara Kepala Kamenag Kabupaten Majene, H Imran Kesa, S. Ag kepada jurnalis Majene Mammis baru-baru ini di ruang kerjanya.

Menurut Anda, kemana arah misi tujuan MTQ yang dilaksanakan di Majene tahun 2010 ini, baik itu Tingkat Kabupaten maupun Provinsi?

Ada hadist Nabi yang menyatakan Hiasilah Rumah Tanggamu dengan nilai-nilai Al Qur’an. Rumah tangga disini berkonotasi luas, dari skala rumah tangga dalam sebuah keluarga maupun rumah tangga dalam arti wilayah Kabupaten, Propinsi dan seterusnya. Untuk skala kabupaten, bagaimana menjadikan Majene menjadi rumah tangga yang besar sehingga masyarakatnya selalu mengerti, memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al Qur’an. Selanjutnya, bicara masalah tujuan, sebenarnya kita semua harus terlebih dahulu memahami bahwa mengapa MTQ harus selalu dilaksanakan, yakni pertama, sebagai seremonial yang notabene menjadi alat memotivasi masyarakat baik itu anak anak hingga orang dewasa untuk lebih meningkatkan ketrampilan baca tulis Al Qur’an yang bermuara pada peningkatan pemahaman terhadap nilai-nilai Al Qur’an yang terkandung didalamnya. Ketika hal tersebut sudah tercapai, maka diharapkan dapat meningkatkan pengamalan nilai Al Qur’an terhadap kehidupan masyarakat tersebut. Kemudian yang kedua, lewat MTQ ajang silaturahmi akan terbentuk dan tercipta antar generasi. Dalam hal ini Ukhuwah Islamiah dapat ditumbuh kembangkan. Yang ketiga, MTQ merupakan bentuk Syiar agama.

Sejauh mana penyelenggaraan MTQ dapat memberikan motivasi masyarakat untuk belajar Al Qur’an?

MTQ diselenggarakan di Majene sudah tentu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Kita semua tahu bahwa Majene berpredikat sebagai Kota Pendidikan, dengan demikian dalam menciptakan generasi penerus haruslah memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual. Generasi yang memiliki kecerdasan Spritual tentu saja mengerti membaca Al Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam upaya memberantas buta aksara Al Qur’an, Bupati Majene langsung action dengan kebijakan mengetest ngaji PNS baru. Bagaimana di lingkup Kementrian Agama Kabupaten Majene sendiri?

Saya sangat salut dan hormat atas tindakan Bupati Majene yang langsung melakukan action. Hal tersebut juga sangat memotivasi dan menginspirasikan bagi lingkup Kemenag Kabupaten Majene. Kedepan, pihak kami akan bekerjasama dengan pihak Diknas Majene untuk membuat sistem penyeleksian anak sekolah mulai dari tingkat Madrasah, Tsanawiah, dan Aliyah untuk diseleksi baca Al-Qur’an pada saat penyeleksian penerimaan siswa baru. Dengan demikian pemberantasan buta aksara Al Qur’an dapat dimulai ditingkat usia dini yang menurut kami lebih menyentuh karena usia dini adalah usia yang produktif dan menentukan mental spiritual sang anak.

Bagaimana dengan masyarakat usia lanjut yang belum bisa baca Al Qur’an?

Hal tersebut juga sudah kami pikirkan. Untuk mereka yang sudah dewasa dan berusia lanjut, namun belum pandai baca Al Qur’an kami akan buatkan program khusus, yakni bikin pengajian khusus (seperti kejar paket A) yang didalamnya akan diberikan pengajaran baca-tulis Al Qur’an sampai mereka dapat membaca dengan benar. Cara tersebut menurut kami sangat efektif untuk memberantas buta aksara Al Qur’an di tingkat masyarakat umum usia dewasa dan manula. (mm)

BERITA UTAMA



MTQ Ke-26

Tingkat Kabupaten Majene


Tujuh Cabang

Dilombakan,

Diikuti 143

Peserta




Perhelatan akbar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-26 tingkat Kabupaten Majene digelar dengan diikuti delapan kafilah mewakili Kecamatannya masing-masing. Event yang berlangsung selama lima hari (23 Januari 2010 – 28 Januari 2010) tersebut melahirkan Qari dan Qari’ah berprestasi. Para juara terbaik tersebut akan dipersiapkan untuk mewakili MTQ tingkat Provinsi Sulbar yang rencananya akan digelar pada bulan Maret mendatang di Kota Kabupaten Majene Mammis.


SETELAH Ba’da Isya, pelataran tempat pembangunan Masjid Agung Majene di dekat rumah jabatan bupati Majene ramai dipenuhi orang. Tenda-tenda yang di dirikan menghiasi panggung utama tempat ajang unjuk gigi para peserta MTQ ke 26 tingkat Kabupaten Majene. Para peserta dan official utusan dari delapan kafilah kecamatan sudah siap dan berbaris rapi membentuk menjadi delapan kelompok. Seragam mereka yang khas dengan kopiah dan jilbab semakin mempercantik penampilan para kafilah.

Duduk pada anjungan utama, yakni barisan paling depan Bupati Majene H. Kalma Katta, S. Sos, MM didampingi oleh Kakandepag Majene, Wakil Bupati, Sekkab, para pengurus LPTQ serta para Muspida dan Ketua DPRD Majene. Tidak ketinggalan pula para SKPD pejabat Kepala Dinas, Kepala Badan dan Kepala Kantor duduk rapi dengan tertib. Begitu pula dengan pejabat Kepala Camat, Kepala Lurah sampai kepada para Mubaliq dan Tokoh Masyarakat serta para supporter memenuhi tenda-tenda yang telah disediakan panitia.

Malam itu merupakan seremoni pembukaan MTQ, yang diawali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya kemudian disusul dengan Hening Cipta, Pembacaan Kalam Ilahi, Menyanyikan Mars MTQ dan Laporan pelaksanaan MTQ ke-26 tingkat Kabupaten Majene.

Acara dilanjutkan dengan Penyerahan piala bergilir dari Juara Umum MTQ ke-25 yakni Kecamatan Banggae kepada Bupati Majene selanjutnya diserahkan ke Panitia. Setelah selesai, Ketua LPTQ Kabupaten Majene membacakan keputusan Ketua Umum LPTQ tentang mengangkatan Dewan Hakim dilanjutkan Pembaiatan (Sumpah) dan Pelantikan Dewan Hakim.

Kemudian, acara pembukaan resmi di buka Bupati setelah kata sambutannya yang bertemakan pemberantasan buta aksara Al-Quran di Majene harus serius dilakukan oleh semua pihak. Bupati sendiri akan memulai di lingkup jajaran Pemkab Majene untuk menerapkan kebijakan bebas buta aksara Al Qur’an.

Acara pembukaan tersebut sangat khidmat, apalagi ketika pasukan Paskibra mulai memasuki arena dan mengibarkan bendera MTQ dengan diiringi Hymne MTQ, suasana religi bercampur patriotik sangat kental terasa.

Pada MTQ ke-26 ini di lombakan Lima Cabang yakni Cabang Tilawatil, Cabang Hifzil Qur’an, Cabang Fahmil Qur’an, Cabang Syarhil Qur’an dan Cabang Khat Qur’an. Dua Cabang yang lain yakni Cabang Tafsir Qur’an dan Cabang Musabaqah Menulis Kandungan Al Qur’an tidak ada pesertanya, karena dari delapan Kecamatan tidak mempersiapkan pesertanya untuk dua cabang tersebut yang dinilai sangat berat dan harus dipersiapkan kaderisasi pesertanya jauh-jauh hari dan dipilih peserta yang memiliki bakat dan pengetahuan yang tinggi untuk dua cabang tersebut.

Untuk Cabang Tilawatil yang dilombakan terdiri dari enam golongan, yakni Golongan Tartil Al Qur’an, Golongan Anak-anak (usia 13 tahun), Golongan Remaja (Usia 21 Tahun), Golongan Dewasa (Usia 40 tahun), Golongan Qira’ah Sab’ah (Usia 40 tahun) dan Golongan Cacat Netra (usia 40 tahun). Diantara enam golongan tersebut, hanya satu golongan yakni Cacat Netra yang tidak ada pesertanya.

Pada Cabang Hifzil Qur’an terdiri dari Lima Golongan, yakni Golongan 1 Juz (usia 14 tahun), Golongan 5 Juz (usia 16 tahun), Golongan 10 Juz (usia 18 tahun), Golongan 20 Juz (usia 21 tahun), dan Golongan 30 Juz (usia 23 tahun). Dalam Cabang ini, untuk dua Golongan yakni 20 juz dan 30 juz tidak ada pesertanya.

Selanjutnya, untuk Cabang Fahmil Qur’an (Cerdas Cermat Al Qur’an) satu Kecamatan (Kafilah) mengirimkan 1 regu yang terdiri dari 3 orang. Pada Cabang ini kelompok usia antara pelajar MTs dan Aliyah disatukan yakni usia 13 tahun -18 tahun.

Demikian juga pada Cabang Syarhil Qur’an (memberikan ulasan tentang Al Qur’an) setiap satu Kecamatan mengirimkan satu regu yang terdiri dari 3 orang, dengan kelompok umur 13 tahun hingga 18 tahun.

Pada Cabang Khat Qur’an (Seni Kaligrafi Al Qur’an) dibagi dalam tiga Golongan yakni Golongan Naskah, Golongan Hiasan Mushab dan Dekorasi. Untuk Cabang Khat Quran ini peserta dibatasi usia maksimal 35 tahun.

Jumlah peserta MTQ ke-26 ini sebanyak 143 orang yang tergabung dalam delapan kafilah di masing-masing kecamatan se-Kabupaten Majene. Selain memperebutkan piala bergilir bupati, para juara juga mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan dari Bagian Kesra Pemkab Majene. Pada MTQ ke-26 ini, Juara Umum diraih oleh Kafilah Kecamatan Banggae Timur dan berhasil merebut Piala Bergilir dari Juara Umum MTQ tahun lalu yakni Kecamatan Banggae. Segenap Dewan Hakim menetapkan Kecamatan Banggae Timur menjadi Juara Umum karena memiliki jumlah poinn nilai paling tinggi dan paling banyak pesertanya yang ikut tampil. (mm)

BERITA UTAMA



Tim Panitia Lakukan Evaluasi,
Siapkan MTQ Tingkat Provinsi
45 Orang, Juara Satu dan Dua Masuk TC




Tim kepanitian MTQ tingkat Kabupaten yang sudah selesai kinerjanya, melakukan evaluasi guna penyempurnaan sistem kepanitiaan untuk kembali menggelar MTQ Tingkat Provinsi Sulbar yang akan diselenggarakan pada bulan Maret mendatang di Kabupaten Majene.

SEPERTI dikemukakan Sekretaris Umum Panitia MTQ tingkat Kabupaten Majene, H. Masfar Ahmad, BA yang juga menjabat Kepala Seksi Penamas Kandepag Majene, menyatakan Kepanitiaan MTQ memiliki fungsi ganda, yakni menyelenggarakan MTQ Tingkat Kabupaten Majene dan MTQ Tingkat Propinsi Sulbar. Karena itu, menurutnya, teknis dan sistemnya harus berubah yakni harus disempurnakan untuk menghadapi menyelenggaraan MTQ Tingkat Provinsi.
Perubahan tersebut, kata Masfar, terletak pada penambahan seksi-seksi mengingat untuk MTQ Tingkat Provinsi Sulbar perhelatannya lebih besar lagi, yakni adanya Seksi Pameran, Seksi Hiburan, Seksi Pelayanan Kafilah dan harus ada Sekretaris khusus. Masfar juga mengharapkan bahwa persiapan yang matang akan menuai kesuksesan, dan jangan sampai terulang peristiwa MTQ Tingkat Provinsi yang pernah diselenggarakan di Kabupaten Polman dua tahun lalu, banyak menuai keluhan dari para Kafilah karena sistem kepanitiaannya yang tidak dipersiapkan dengan matang.
“Memang berbeda persiapan yang dilakukan kepanitiaan MTQ Tingkat Provinsi karena skalanya lebih besar lagi dan tentu saja dibutuhkan kelengkapan seksi-seksi yang menangani lebih banyak dari pada MTQ Tingkat Kabupaten yang baru-baru lalu digelar. Pastinya, penyelenggaraan MTQ Tingkat Provinsi di Majene ini Insya Allah harus lebih baik dari pada penyelenggaraan MTQ dua tahun lalu di Polman”, sergah Masfar antusias.
Lebih lanjut Masfar menjelaskan, Kepanitiaan MTQ Tingkat Kabupaten harus mengevaluasi hasil dan pelaksanaan kegiatan, mengingat ada Dua Cabang yakni Cabang Tafsir Al Qur’an dan Cabang Musabaqah Menulis Kandungan Al Qur’an belum terisi karena tidak ada pesertanya. Kenyataan ini haruslah disikapi dengan mencarikan solusi secepatnya, mengingat pada MTQ Tingkat Provinsi harus ada dua cabang tersebut. Hal tersebut menjadi PR kepanitiaan MTQ hingga bulan Maret mendatang.
Ditanya masalah strategi peningkatan skill untuk Kafilah Kabupaten Majene yang akan berlaga pada MTQ Tingkat Provinsi Sulbar, Masfar menjawab bahwa sudah ada upaya program pelatihan. Untuk mempertahankan juara yang telah direbut Kafilah Majene dua tahun silam di Kabupaten Polman, maka para peserta pilihan diikutkan Training Centre (TC). Mekanismenya adalah untuk peserta Juara 1 dan Juara 2 pada MTQ Tingkat Kabupaten yang lalu, di kirim ke Kandepag Majene untuk mengikuti TC selama satu minggu. Jumlah peserta yang akan dilatih sebanyak 45 orang, dengan kualitas Pelatih yang didatangkan dari Lokal dan Provinsi.
“Untuk pelatih Lokal, pihak kami sudah sepakat akan mendatangkan dua pelatih senior yakni KH. Hasan Basri dengan Hj. Umrah”, ungkap Masfar semangat.
Dalam hal Dana penyelenggaraan, Masfar menyatakan ada Dana dari Pemkab Majene sebesar 500 juta rupiah untuk menyelenggarakan dua event kegiatan, yakni MTQ Tingkat Kabupaten yang sudah selesai dilaksanakan dan MTQ Tingkat Provinsi Sulbar pada Bulan Maret mendatang. Besarnya dana tersebut, lanjut Masfar, tentu saja dikondisikan dan dimenej sebaik-baiknya agar cukup sampai kegiatan berakhir.
Terkait dana MTQ, Masfar juga menambahkan, bahwa berdasarkan Surat Gubernur No 485 Tahun 2009, menyatakan bahwa Dana Penyelenggaraan MTQ Tingkat Provinsi di bebankan pada APBD Kabupaten Majene yang dibantu dengan APBD Provinsi Sulbar serta kontribusi dari Kabupaten lain sebagai peserta yakni Kabupaten Mamuju, Matra, Polman dan Mamasa. Kontribusi tersebut per Kabupaten sebesar 25 juta rupiah. (mm)

Selasa, 20 April 2010

INFO MTQ KABUPATEN


Juara Umum MTQ Ke-26

Tingkat Kabupaten Majene


Kilas Profil

Kafilah Banggae Timur


Juara Umum MTQ Ke-26 Tahun 2010, diraih oleh Kafilah Kecamatan Banggae Timur dan berhasil memboyong Piala Bergilir Bupati Majene. Lalu bagaimanakah upaya yang dilakukan Banggae Timur dalam mendulang sukses dan berhasil mengalahkan Kafilah Kecamatan Banggae sebagai Juara MTQ tahun 2008 lalu? Berikut nukilan kilas profil Kafilah Kacamatan Banggae Timur.



KECAMATAN Banggae Timur sebagai wilayah kecamatan muda hasil pemekaran dari Kecamatan Banggae, ternyata menyimpan beragam potensi yang salah satunya adalah potensi SDM Qari dan Qari’ah berprestasi. Hal tersebut dibuktikan melalui ajang bergengsi MTQ tingkat Kabupaten yang beberapa waktu lalu usai diselenggarakan. Tidak tanggung-tanggung, Banggae Timur menyabet gelar Juara Umum dengan peserta pengumpul poin terbanyak. Kesuksesan tersebut, tentu saja tidak serta merta terjadi tanpa kerjasama seluruh Tim Kafilah, utamanya Ketua LPTQ dan para official.

Menurut Ketua LPTQ Kecamatan Banggae Timur yang sekaligus menjabat sebagai Camat Banggae Timur, Drs. H. Fahmi Massiara, MH, menyatakan bahwa persiapan yang matang dan kekompakan Tim yang terjaga akan melahirkan kesuksesan bersama. Fahmi juga menyadari bahwa keberhasilan tersebut dikarenakan Wilayah Banggae Timur memiliki Pondok Pesantren yang memudahkan untuk mencari bibit unggul yang berbakat untuk dijadikan peserta mewakili kecamatan.

Selain itu, lanjut Fahmi, banyaknya kelompok pengajian yang tumbuh dan berkembang di Kecamatan Banggae Timur juga merupakan potensi yang dapat direkrut untuk memperkuat Tim Kafilah Banggae Timur.

“Alhamdulillah, seluruh peserta yang kami rekrut merupakan potensi yang memiliki kualitas standar sehingga Tim Kafilah Kecamatan Banggae Timur jadi semakin kuat”, ungkap Fahmi di kediamannya baru-baru ini.

Ditanya masalah sumber dana yang digunakan, Fahmi menjawab bahwa tidak ada pos khusus untuk mendanai Tim Kafilah MTQ Kecamatannya. Sedangkan untuk menghimpun dana dari masyarakat juga tidak sempat lagi karena waktunya sempit sekali. Karena itu, menurut Fahmi, pihaknya segera mencarikan solusi yakni mengambil pos-pos lain yang ada dari dana kecamatan. Maka terkumpulah dana sebesar 15 juta rupiah.

Dana tersebut digunakan untuk kepentingan pembelian Pakaian Seragam para peserta, Kelengkapan Alat Lomba untuk Cabang Kaligrafi, Makanan (konsumsi) dan Snack para paserta selama lima hari dan Uang Saku para peserta sebanyak 24 orang.

Fahmi mengakui dari akumulasi biaya tersebut membengkak dan total menghabiskan 17 juta rupiah selama lomba berlangsung. Dengan demikian kekurangan dana sebesar 2 juta rupiah diambilkan dari dana pribadi Fahmi yang juga sebagai Camat Banggae Timur.

“Walaupun tombok 2 juta, namun Saya puas karena dapat meraih kesuksesan bersama” tandas Fahmi penuh semangat.

Secara total peserta termasuk official sebanyak 40 orang. Jumlah tersebutlah yang menjadi Tim Kafilah Banggae Timur yang tangguh. Terlepas dari momen MTQ, Fahmi juga menghimbau bahwa segi positif dari MTQ ini adalah turut serta melaksanakan pemberantasan buta aksara Al Qur’an baik itu di Kecamatan Banggae Timur pada khususnya dan Kabupaten Majene pada umumnya. (mm)

SUKSES SANG JUARA

Marhamah, 6 Jam Sehari

MARHAMAH Hasan yang mewakili kelompok umur 13 Tahun adalah Puteri dari Hasan Tola yang juga Ustadz guru mengaji. Marhamah belajar mengaji mendapat bimbingan langsung dari sang Ayah. Talenta Marhamah pun semakin menonjol dalam mengaji. Betapa tidak, pada umur 4 tahun yakni ketika masih duduk di bangku TK Marhamah sudah hafal Al Qur’an. Jam berlatih mengaji Marhamah tergolong tinggi, yakni waktu Pagi 2 jam, Siang 3 jam dan Malam 1 jam. Praktis dalam satu hari Marhamah memanfaatkan waktu 6 jam untuk mengaji.
Dari kedisiplinan waktu berlatih mengaji tersebutlah, akhirnya membuat Marhamah semakin piawai dalam melantunkan ayat-ayat suci. Segudang prestasinya pun mulai nampak. Pada MTQ ke-26 tahun 2010 beberapa waktu lalu dia Juara I menghafal 1 Juz. Pada tahun 2009 Juara I Porseni, Tahun 2009 Juara I Olimpiade Tilawah Sulbar, Tahun 2009 Juara I STQ mewakili Sulbar ke Jakarta. Tahun 2008, Juara I MTQ Luwu- Sulsel. (mm)

SUKSES SANG JUARA



Nur Saida,

Pemilik Suara Merdu


UNTUK kelompok umur Remaja 21 Tahun, Nur Saida berhasil menyabet Juara I pada MTQ ke-26 tingkat Kabupaten Majene yang beberapa waktu lalu berlangsung. Mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan Sastra dan Bahasa Unismuh Makassar ini, memiliki suara merdu dalam melantunkan ayat suci Al Qur’an. Karena kepiawaiannya tersebutlah, Nur Saida selalu menyabet Juara dalam setiap lomba yang diikutinya.

Beberapa prestasi yang pernah diraihnya dimulai dari Juara I Barzanji tingkat Pelajar. Kemudian Juara I Tilawah pada Porseni tahun 2006. Selanjutnya, Juara I Cerdas Cermat Qur’an (CCQ) tahun 2008, Juara II Tilawah pada MTQ tahun 2008, Juara I Tilawah Golongan Remaja pada MTQ tingkat Kabupaten Majene 2010.(mm)